Senin, 19 Januari 2009

Maraknya Geng 'Rusak' Pelajar: Serangan Budaya Barat

Syabab.Com - Generasi muda saat ini benar-benar dalam ancaman. Ini dapat terlihat dari maraknya kerusakan moral yang dilakukan oleh anak muda termasuk para pelajar. Kerapkali para kapitalis menggiring pada hancurnya akidah dan perliku generasi muda kita melalui berbagai ajang. Tidak ketinggalan anak muda itu berkerumun dalam ganster-gangster yang merusak, mulai dari 'geng pelajar', cheers, hingga geng Nero.

Seperti di Yogyakarta, menurut Kapoltabes Yogyakarta Kombes Pol Drs Agus Sukamnso Msi, menyatakan bahwa dari hasil penyelidikan memang ditemukan ada `gang pelajar` di Kota Yogyakarta yang ditengarai sering melakukan kegiatan yang menganggu masyarakat seperti aksi `vandalisme` dan corat-coret fasilitas umum.

"Kami akan perketat pengawasan dan pembinaan terhadap `gang pelajar` di Kota Yogyakarta karena gang seperti ini dapat mengarah kepada tindakan anarki," katanya.

Pihak Poltabes Yogyakarta sendiri akan memperketat pengawasan terhadap `gang pelajar` di Kota Yogyakarta dan melakukan pembinaan untuk mengantisipasi merebaknya kasus kenakalan pelajar.

"Kami akan terus melakukan pemantuan bersama dengan Dinas Ketertiban termasuk razia di tempat permainan atau pada jam-jam sekolah maupun usai pulang sekolah," lanjutnya lagi.

Bukan Hanya Masalah Narkoba

Ya, Kehancuran generasi muda bukan hanya pada persoalan penyalahgunaan narkoba atau tawuran. Namun lebih dari itu maraknya gaya hidup 'rusak' yang mencengkram generasi kita yang berbalut kapitalisme. Mulai dari konser-konser musik dan ajang kompetisi yang disponsori oleh perusahan-perusahaan untuk meraup untung. Kerapkali kebrutalan, minum-minuman keras, kehidupan campur baur, eksplitasi wanita, menjajakan aurat bak hewan hingga perilaku seks bebas kerap kali muncul dari sini.

Bahayanya lagi dari semua itu adalah berawal dari penyelewengan akidah yang berujung pada perilaku generasi muda kita menyimpang dari ajaran yang berasal dari Tuhan, Pencipta manusia itu. Termasuk di dalamnya persoalan pergaulan bebas yang kini marak di kalangan anak muda atau juga kehidupan campur baur dan ekspolitasi para pemudi Muslim.

Mengapa masalah penyalahgunaan narkoba dipersoalkan sementara penyalahgunaan pemenuhan naluri seksul generasi kita dianggap biasa?

Serangan Barat

Tak dapat dipungkiri lagi, generasi muda terutama pemuda muslim saat ini tengah diserang secara brutal oleh para agen-agen Barat dengan gaya, pemikiran dan tingkah laku ala mereka. Barat tahu persis, serangan berupa budaya (ghozwul tsaqafi) ini harus terus digencarkan untuk menjauhkan generasi muslim dari Islam itu sendiri.

Lihat saja hancurnya sebagian generasi muda kita, tampak di jalan-jalan maupun di mal-mal mereka sudah tak mengindahkan lagi Islam. Para gadis Muslimah dengan tanpa merasa berdosa membuka aurat dengan pakaian yang seadanya. Tak jauh beda, gaya mereka seperti orang Barat yang jelas-jelas bukan Islam. Sementara laki-laki dan perempuan bukan suami istri berdua-duaan tanpa mahram, tak merasa bahwa perbuatan itu merupakan perbuatan hina dan nista.

Sementara, acara-acara televisi tiap hari menggiring anak muda kita dengan gaya hedonis, permisiv, dan sekularis. Hubungan laki-laki dan perempuan di luar nikah terus menerus dikampanyekan melalui acara-acara 'reality show' remaja, hingga sinetron.

Berbagai ajang kompetisi 'rusak' pun digelar bagi kalangan anak muda demi kepentingan para kapitalis dan sekularis. Mulai dari pencarian idola 'palsu', kompetisi kecantikan, hingga ajang-ajang musik hanya mengarahkan generasi muda kita pada jurang kehinaan.

Di sekolah, yang diharapkan mampu mendidik generasi muda ternyata tak bisa apa-apa. Bahkan seringkali ajang-ajang kerusakan itu bermula dari sekolah. Bagaimana tidak, jiwa sekularisme telah ditanamkan melalui jalur pendidikan. Dengan pelajaran agama yang dua jam saja, mana mungkin membentuk kepribadian generasi kita yang Islami. Ditambah lagi, mereka secara brutal diserang dengan gaya-gaya Barat dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Demikian pula kegiatan-kegiatan berbalut kreativitas dan seni seperti band, cheerleader, hingga dance legal di sekolahan. Apalagi ketika para kapitalis mendorongnya dengan berbagai ajang kompetisi dari kegiatan tersebut. Sebagian pihak sekolah merasa bangga, ketika sekolah mampu mengirimkan perwakilan cheerleader atau dance dalam sebuah ajang kompetisi. Apa sebenarnya yang dibanggakan dari aktivitas penuh maksiyat itu? Apakah kegiatan cheerleader dan dance itu tidak menimbulkan kemaksiyatan ketika para gadis Muslimah menjadi tontotan dengan mengumbar aurat? Lalu mengapa cheerleader dan dance menjadi salah satu kegiatan ekstrakulikuler di sekolah?

Islam Bukan Sekularisme

Siapakah yang bertanggung jawab atas kerusakan moral generasi muda kita saat ini? Tentu saja semua pihak, mulai dari setiap individu, keluarga, pihak sekolah, aparat hingga institusi negara. Bila sekularisme terus dibiarkan dalam kehidupan kita dan semua komponen tadi ikut serta menjamurkannya, maka demikianlah hancurnya generasi muda kita. Tinggal menunggu massa saja suatu saat, Allah Swt. Rabb Yang Mahakuasa, Pencipta Alam Raya ini menurunkan azab-Nya, naudzubillahi min dzalik.

Jika kita takut kepada Dia, Pencipta Alam Semesta ini maka mau tidak mau kaum Muslim harus berdiri untuk kembali kepada Islam, menyelamatkan generasi mereka dengan Islam bukan dengan sekularisme yang rusak itu. Semua pihak, mulai dari pembinaan ketakwaan individu hingga kontrol sosial masyarakat dengan halal dan haram menjadi tolok ukur. Tak lupa juga, peranan institusi Negara sudah saatnya kembali kepada tatanan syariah bukan pada sekularisme. Kapan? Tentu saja mulai saat ini juga. [z/m/ant/syabab.com]

Tidak ada komentar: